Etika Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Image: canva.com

Etika Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Postingan kali ini akan membahas tentang bagaimana etika yang baik dan benar dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Seperti di materi sebelumnya, salah satu dampak negatif penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah maraknya pembajakan.

Pembajakan adalah kegiatan penggandaan dan pendistribusian karya yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi tanpa izin. Misalnya, lagu di CD atau mp3 bajakan, film di VCD dan DVD, software komputer, dan buku.

Melalui pembajakan semacam ini, maka etika penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dilanggar. Kegiatan ini merupakan kejahatan karena secara ekonomi dan intelektual merugikan orang yang membuat pekerjaan yang dibajak. Untuk melindungi hasil karya cipta ini, di Indonesia diatur dalam Undang Undang Hak Cipta Nomor 19 Tahun 2002.

Dalam undang-undang ini, hak cipta adalah hak eksklusif dari penulis atau penerima hak untuk mempublikasikan atau mereproduksi karya cipta atau memberikan lisensi. Untuk alasan ini, tidak perlu menurunkan batasan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Kegiatan apa saja yang termasuk dalam pembajakan? Ini termasuk penyalinan atau penginstalan program komputer secara ilegal, yang berarti bahwa program komputer yang disalin atau diinstal tidak diperoleh melalui cara yang sah, seperti dengan membeli CD program bajakan.

Salin dan distribusikan dengan menjual CD atau DVD. Download ilegal berarti mendownload software dengan serial number dari beberapa situs, serial number dapat disalin tanpa izin. Penyewaan CD atau DVD tanpa izin. Bagi mereka yang bermasalah karena pembajakan, sanksi hukum yang akan merugikan mereka adalah sanksi perdata dan pidana.

Di Indonesia, sanksi pidana untuk pelanggaran hak cipta biasanya dapat dijatuhi hukuman penjara minimal 1 bulan dan maksimal 7 tahun, dan dapat disertai atau tidak disertai dengan denda minimal Rp. 1 juta dan maksimal Rp. 5 miliar. Pada saat yang sama, negara akan menyita karya atau barang hasil tindak pidana hak cipta dan alat yang digunakan untuk melakukan tindak pidana tersebut (Bab 13 UU No. 19/2002).

Jika sumbernya dinyatakan atau dinyatakan dengan jelas, penggunaan karya tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dan terbatas pada kegiatan non-komersial, termasuk kegiatan sosial, seperti pendidikan dan sains, kegiatan penelitian dan pengembangan, selama kegiatan tersebut tidak merusak kepentingan dari penciptanya.

Khusus untuk karya tulis kutipan, sumber dari karya yang dikutip harus disebutkan atau dicantumkan secara lengkap. Artinya, setidaknya mencantumkan nama pengarang, judul atau judul karya, dan nama penerbitnya (jika ada). Selain itu, seseorang yang memiliki program komputer diperbolehkan membuat salinan program komputer yang dimilikinya, hanya untuk cadangan dan untuk digunakan sendiri.

Salah satu cara untuk menghindari pembajakan di bidang teknologi informasi dan komunikasi adalah dengan menggunakan software gratis atau open source yang bisa didapatkan dan digunakan secara gratis. Contoh perangkat lunak yang menyertakan perangkat lunak gratis meliputi Linux, OpenOffice, Mozilla FireFox, Mplayer, dan GIMP.

Di Indonesia, penggunaan perangkat lunak open source diumumkan melalui program IGOS (Indonesia Go Open Source). IGOS bertujuan untuk mempercepat penguasaan teknologi di Indonesia melalui pengembangan dan penggunaan software open source.


Referensi:

Buku Sekolah Elektronik Mengenal Teknologi Informasi dan Komunikasi Kelas 7 Ida Bagus Budiyanto dan RR Phitsa Mauliana 2010

Baca Materi Selanjutnya >

< Baca Materi Sebelumnya



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *